IG Post - Logo ACEH HIJAU

Pidie, 13 September 2024 - Akses terhadap layanan air minum, sanitasi, dan kebersihan yang aman (WASH) bagi masyarakat di setiap lingkungan, termasuk sekolah, merupakan hal yang mendasar untuk memastikan pemenuhan hak dan martabat anak. Memastikan akses terhadap fasilitas dan layanan WASH di sekolah dapat meningkatkan partisipasi anak di sekolah, karena akses dasar terhadap WASH di sekolah dapat mengurangi risiko diare dan penyakit pernapasan lainnya seperti penularan COVID-19. Mengingat pentingnya layanan WASH di sekolah, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk meningkatkan upayanya dengan mengintegrasikan WASH sebagai salah satu prioritas pembangunan utama melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2020-2024) dan intervensi nasional seperti Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) yang telah diperbarui menjadi Gerakan Sekolah Sehat (GSS) pada tahun 2024.

Indonesia telah mencapai kemajuan yang baik dalam menyediakan akses air bersih yang layak dan memadai di lingkungan sekolah, yaitu sebesar 70,25% (Kemendikbudristek, 2022). Meskipun demikian, hanya sekitar 11,43% sekolah di seluruh tingkatan di Indonesia yang memiliki toilet terpisah dan berfungsi dengan baik (Kemendikbudristek, 2022). Sementara itu, rata-rata 52,49% sekolah di semua tingkatan memiliki toilet yang tidak memadai, tidak terpisah, atau tidak berfungsi. Provinsi Aceh memiliki layanan dasar sekolah di semua jenjang yaitu rata-rata sebesar 76,8%, layanan terbatas sebesar 12,8% dan terdapat sekolah yang tidak memiliki akses sanitasi sebesar 10,4% dari total seluruh sekolah di Provinsi Aceh (Kemendikbudristek, Pusat Data dan Teknologi Informasi 2023). Hal ini berarti bahwa secara nasional, separuh dari siswa sekolah memiliki akses terbatas ke toilet selama waktu sekolah. Selain itu, kurangnya toilet yang tidak memadai dan tidak terpisah berdasarkan gender memaksa remaja perempuan untuk menghadapi tantangan dalam mengelola menstruasi di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan kehadiran anak pada sekolah dengan kondisi sanitasi yang baik jauh lebih tinggi daripada sekolah dengan kondisi sanitasi yang tidak baik; pada anak perempuan tingkat kehadiran 11% lebih tinggi disekolah dengan sanitasi yang baik, pada kondisi sanitasi yang tidak baik 1 dari 6 anak perempuan tidak hadir ke sekolah pada saat mengalami menstruasi, karena tidak ada fasilitas pendukung untuk Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM) yang baik, nyaman dan aman. 

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan berbagai aktor kunci di sektor WASH, termasuk UNICEF, telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat pengembangan WASH di Sekolah (WinS) melalui berbagai intervensi seperti memperbarui kebijakan, peraturan, dan standar teknis nasional tentang WinS, meningkatkan pengembangan kapasitas kepala sekolah, guru, dan komite sekolah, memperkuat dasbor nasional (Dapodik dan EMIS) tentang aspek WinS, dan mengatur alokasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pemeliharaan fasilitas WASH di sekolah.

Di Provinsi Aceh, sekitar 76,8% sekolah menyediakan layanan dasar sanitasi, namun 10,4% sekolah masih kekurangan akses sanitasi yang memadai. Kondisi ini berdampak pada kehadiran siswa, terutama perempuan yang seringkali mengalami kesulitan dalam menjaga kebersihan menstruasi tanpa fasilitas yang memadai. Dalam merespons isu ini, UNICEF melalui Yayasan Aceh Hijau bekerjasama dengan Pemerintah Aceh menyelenggarakan Lokakarya Perencanaan Partisipatif Peningkatan Sarana dan Layanan Air, Sanitasi & Hygiene di Sekolah yang Aman, Berketahanan Iklim dan Inklusif di SD Negeri 04 Peukan Pidie pada Jum’at, 13 September 2024.

Lokakarya ini bertujuan untuk menggalang kerjasama multipihak termasuk pemerintah, warga sekolah, orang tua/wali, dan warga masyarakat untuk mendukung upaya peningkatan layanan Air, Sanitasi, dan Higiene di Sekolah, termasuk menyepakati pembagian peran dan tanggungjawab dalam pelaksanaan rencana implementasi nantinya. Kegiatan melibatkan 50 peserta dan dihadiri oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie, Dinas Kesehatan, Konsultan WASH UNICEF, WASH Specialist Yayasan Aceh Hijau, Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan, BAPPEDA, tenaga pengajar dan siswa SDN 04 Peukan Pidie, serta wali murid.

Kepala Sekolah SD Negeri 4 Peukan Pidie, Rawatal Afna, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa lokakarya ini merupakan kegiatan strategis yang hadir di tengah upaya SD Negeri Peukan Pidie untuk terus berbenah.

“Kegiatan hari ini merupakan kegiatan yang sangat penting sekali di tengah-tengah keinginan kita untuk membangun kembali sekolah kita ini. Ini merupakan kegiatan kedua, yang diinisiasi oleh Yayasan Aceh Hijau di sekolah kita. Ini merupakan sebuah bentuk perhatian bahwa sekolah kita mulai dilirik, mulai diperhatikan oleh luar. Ketika kita mulai sedikit-sedikit ingin membangun, banyak kegiatan yang mulai datang ke kita,” kata beliau.

WASH Specialist Yayasan Aceh Hijau, Dian Aprianda, menggarisbawahi pentingnya perencanaan partisipatif dari berbagai pihak dalam peningkatan sarana dan layanan air, sanitasi & higiene di sekolah yang aman, berketahanan iklim dan inklusif.

“Menurut data UNICEF, 3 dari 7 siswi tidak hadir ke sekolah karena tidak layaknya fasilitas toilet yang mendukung kegiatan Manajemen Kebersihan Menstruasi. Karena tidak memadainya layanan sanitasi dan toilet, mereka memilih untuk tidak pergi ke sekolah. Berangkat dari permasalahan ini, kita bersama-sama, baik itu guru, wali murid, warga sekolah, hingga pemerintah terkait,  harus berpartisipasi bagaimana caranya strategi kita untuk meningkatkan layanan air, sanitasi dan higiene di sekolah supaya warga sekolah aman, agar anak-anak juga tersampaikan pesannya bahwa sanitasi ini sangat penting bagi kita di sekolah dan juga di rumah,” papar Dian.

Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Pidie, Zainuddin, S.Pd.I, M.Si, selaku Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter, menyampaikan, “Kami dari Dinas Pendidikan selalu mendukung setiap lembaga untuk meningkatkan kesehatan di Kabupaten Pidie. Kami sangat berterima kasih pada Yayasan Aceh Hijau yang selama ini telah melakukan beberapa kegiatan, termasuk kerjasama dengan Wings untuk mewujudkan sekolah bersih dan sehat untuk pendidikan yang lebih baik kedepannya,” ungkap Bapak Zain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *