Desa Oebau merupakan salah satu desa terisolir dan tertinggal di Pulau Rote yang terletak di ujung paling selatan Indonesia di kabupaten Rote Ndao provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Desa Oebau memiliki penduduk sekitar 1,000 jiwa atau 287 kk yang tersebar di 10 dusun. Lebih dari 90% masyarakat desa ini bekerja sebagai petani dan menggantungkan penghidupannya pada lahan pertanian tadah hujan. Dengan lokasi yang relatif terisolir, dimana membutuhkan 2 jam perjalanan dengan mobil melewati jalan yang berbatuan untuk mencapai desa oebau dari Baa (ibukota kabupaten), desa oebau masih sangat tertinggal dalam hal infrastruktur dan layanan dasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Salah satu tantangan utama yang di hadapi oleh masyarakat desa Oebau adalah akses terhadap listrik baik untuk kebutuhan penerangan, charge ponsel, air bersih, maupun untuk mengairi lahan pertanian. Mayoritas warga masih menggunakan lampu minyak tanah untuk penerangan, sementara sebagian kecil warga lainnya sudah mampu menggunakan panel surya (PLTS) dengan biaya sendiri. Satu tahun yang lalu terdapat program Lampu SEHEN dari PLN yakni, penerangan menggunakan tenaga surya, dimana masyarakat diberikan 3 buah bola lampu dan mereka membayar biaya sebesar Rp 36.000,- (tiga puluh enam ribu rupiah). Namun sayangnya, program tersebut tidak berlanjut dan warga kembali menggunakan lampu minyak tanah. Rata-rata untuk warga yang kurang mampu, mereka menggunakan minyak tanah untuk penerangan sebanyak 1 liter selama 1 minggu dimana harga minyak perliternya Rp. 8.000,00 (Rp. 36.000,00/bulan); sedangkan untuk warga yang mampu/berkecukupan membutuhkan 5 liter minyak tanah untuk 1 minggu (Rp 160.000,00/bulan).
Akses terhadap listrik juga menjadi tantangan dalam operasional dan aktivitas belajar mengajar di sekolah dan gereja. Di Sekolah Dasar Ngaek, misalnya, setiap tahun sekolah harus menampung anak-anak yang akan ikut Ujian Akhir Nasional, karena akses sekolah yang jauh. Namun ironisnya, karena tidak ada listrik, anak anak harus belajar dan tidur dalam penerangan yang terbatas dengan lampu minyak tanah. Di gereja, masyarakat harus mengeluarkan biaya hingga Rp. 1.500.000,00 per bulannya untuk sound system (5 liter minyak tanah/malam x 10,000 x 30 hari) untuk keperluan beribadah.
Permasalahan lainnya di Desa Oebau adalah ketersediaan sumber air bersih, baik untuk kebutuhan rumah tangga, maupun untuk kebutuhan pengairan pertanian dan ternak, khususnya dikampung Ngaek dan Ladoen. Sumber air, terletak di lembah yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga sehingga membutuhkan teknologi untuk dapat dialirkan ke rumah penduduk. Oleh karena itu, masyarakat mengandalkan air sumur untuk kebutuhan air bersih untuk mencuci, masak dan minum keluarga. Namun demikian, tidak semua warga memiliki sumur air. Struktur tanah yang didominasi batu apung dan kapur, menyebabkan sumur tidak bisa di gali di semua tempat. Belum lagi biaya yang begitu besar untuk menggali sebuah sumur, mencapai 30 – 50 juta Rupiah. Menurut Bapak Yupe Kalle (Kepala Desa Oebau), masyarakat harus menggali hingga kedalaman sekitar 15-20 Meter untuk mencapai mata air, dengan ongkos 1 juta Rupiah per meter. Masyarakat juga harus membeli minimal 30 cincin sumur dari Baa dengan harga 1 juta per cincin. Dengan kondisi ini, akhirnya hanya ada sejumlah kecil (4-5) sumur di desa yang di bangun dengan dana desa. Dari sumur inilah, masyarakat menimba air secara manual atau dengan menggunakan katrol untuk kemudian diangkut kerumah dengan menggunakan jirigen plastik.
Sebagian besar masyarakat desa Oebau (>90%) merupakan petani yang menggantungkan kehidupannya dari sawah tadah hujan. Di musim hujan seperti sekarang desa Oebau sangat hijau dan masyarakat memiliki air yg melimpah untuk menggarap lahan pertaniannya dan juga untuk kebutuhan mandi cuci di rumah tangga. Namun di musin kemarau (terutama pada bulan September – Desember), desa akan mengalami kekeringan dan kesulitan air. Ada beberapa sumber mata air yang tersedia di sekitar lahan pertanian, namun masyarakat harus menimba air tersebut secara manual atau (bagi masyarakat yang mampu) menggunakan pompa yang dioperasikan dengan bensin untuk kemudian di alirkan ke persawahan.
Yayasan Aceh Hijau, melalui pendanaan Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), bekerjasama dengan Warung Energi telah membangun tiga (3) unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sarana pendidikan, sarana ibadah, dan pengairan pertanian di Desa Oebau. Ketiga fasilitas tersebut sudah diresmikan dan di serahterimakan kepada masyarakat pada tanggal 20 Februari 2020. Setelah selesai acara serah terima, Yayasan Aceh Hijau Bersama dengan Warung Energi juga melatih warga masyarakat, guru sekolah, dan petugas gereja tentang tatacara mengoperasikan dan merawat sistem serta mekanisme pengelolaan untuk memastikan keberlanjutan fasilitas tersebut.
Sekarang, anak anak sudah bisa belajar dalam terang, para guru juga sudah bisa menggunakan menyiapkan bahan ajar di laptop dan menggunakan proyektor dalam kegiatan belajar mengajar, serta masyarakat sudah bisa beribadah dengan leluasa, dan petani sudah bisa mengairi sawahnya dengan menggunakan pompa. Untuk keberlanjutan jangka Panjang, Yayasan Aceh Hijau dan Warung Energi juga ‘local champion’ dan kampus pada saat membangun PLTS. Local Champion kami, Bapak Obed, merupakan dosen di Politeknik Kupang. Setidaknya delapan (8) orang mahasiswa ikut terlibat dalam proyek ini, dimana tiga orang berasal dari Rohte-Ndao. Kami berharap mereka akan menjadi rujukan teknis bagi masyarakat untuk pengembangan PLTS di Rohte di masa yang akan dating.

Comments are closed!