IG Post - Logo ACEH HIJAU

Banda Aceh, 27 Februari 2024 - Yayasan Aceh Hijau, dengan dukungan UNICEF dan Pemerintah Aceh, menggelar dua pelatihan strategis untuk meningkatkan kapasitas pesantren/dayah dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak di Provinsi Aceh. Kedua pelatihan tersebut yaitu "Pelatihan Pendekatan Disiplin Positif" dan Kebijakan Perlindungan Anak (Child Safeguarding Policy) yang akan berlangsung secara paralel pada 27 Februari - 3 Maret 2024 di Hotel Mekkah, Banda Aceh.

Pelatihan disiplin positif akan melibatkan 33 perwakilan manajemen dan pengasuh/pengajar dari 17 dayah di 5 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dilanjutkan dengan pelatihan Kebijakan Perlindungan Anak yang mengikutsertakan seluruh peserta pelatihan disiplin positif dari Dayah intervensi program fase 2 (dua), serta perwakilan 14 dayah yang diintervensi program Pro-DAI pada fase 1 (satu) serta 24 perwakilan stakeholder pemerintah seperti Kanwil Kemenag, Dinas Pendidikan Dayah, DP3A, HUDA dan DP3A dari tingkat provinsi Aceh, Kabupaten/Kota Banda Aceh, Aceh besar, Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Yayasan Aceh Hijau dan UNICEF. 

Kedua kegiatan ini memberikan pemahaman mendalam tentang konsep disiplin positif, mekanisme konsekuensi logis berfokus solusi, serta keterampilan praktis dalam menerapkan disiplin positif di lingkungan dayah. Pembahasan tentang hak-hak anak, faktor risiko perlindungan anak dalam konteks Islam dan pengantar kebijakan perlindungan anak juga menjadi highlight pelatihan ini. Selain itu, akan dibahas juga aspek strategi rekrutmen staff pendidikan, pelatihan struktur manajemen, pedoman perilaku, serta panduan pelaporan dan tindakan dalam rangka mewujudkan mekanisme perlindungan anak di Dayah.

Harapannya, pelatihan selama lima hari ini dapat meningkatkan kapasitas peserta terkait konsep disiplin positif secara menyeluruh serta memahami kebijakan perlindungan anak di dayah, termasuk mekanisme rujukan jika terjadi kasus kekerasan dan upaya pencegahannya. Meningkatnya kesadaran dan kapasitas stakeholder, pimpinan dayah, juga pengasuh akan menciptakan lingkungan pendidikan yang positif dan mendukung perkembangan optimal anak-anak di dayah.

Dalam sambutannya, Bapak Andi Yoga Tama selaku Kepala UNICEF Kantor Perwakilan Aceh, mengatakan bahwa Dayah memiliki peranan sangat penting di provinsi Aceh karena Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan dayah di Aceh bisa menjadi contoh bagi dayah-dayah di provinsi lain.

“Sebagai tempat pendidikan pembinaan karakter, dayah juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda Aceh. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa dayah merupakan tempat yang aman dan mendukun perkembangan setiap santri. Kami berharap apa yang Bapak/Ibu dapatkan di pelatihan ini bisa diterapkan dan disampaikan ke pengasuh atau pengurus dayah lainnya sehingga mereka juga punya persepsi dan komitmen yang sama dalam memberikan ruang yang aman dan positif bagi santri,” jelas Pak Andi.

Kepala Bidang Pembinaan Sumber Daya Manusia Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Bapak Andriansyah, mengemukakan bahwa kebijakan yang ada di konsep Disiplin Positif merupakan strategi untuk memberikan manfaat untuk pemenuhan hak anak. Ini merupakan upaya yang sifatnya mencegah kekerasan di lingkungan dayah.

“Pemerintah sangat setuju dan mendukung pelatihan terhadap guru-guru santri seperti ini. Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sangat besar kepada YAHijau dan UNICEF karena telah memberi dampak dan manfaat yang sangat besar dalam upaya membangun kehidupan yang sejahtera di dayah tanpa kekerasan, pelecehan, atau bullying,” ungkap Pak Andri.

Sementara itu, Direktur Yayasan Aceh Hijau, Ibu Syarifah Marlina AlMazhir menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan rangkaian awal kegiatan Pro-DAI. Program ini memberikan pendampingan kepada dayah untuk meningkatkan kapasitas guna memberikan dukungan terbaik.

“Pelatihan ini merupakan bentuk dukungan untuk menambah wawasan agar mendapat strategi yang bisa implementasikan di dayah. Dalam kesempatan kita beberapa hari ke depan ini kita bisa membangun pemikiran bersama dan mimpi bersama. Diharapkan nantinya kegiatan ini partisipatif dan dialogis,” kata Bu Syarifah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *