Langit Aceh Utara tampak kelabu sore itu, tanda hujan akan segera menyambangi buminya yang damai. Saat itu pula, tampak seorang anak usia sekolah mengendarai sebuah becak usang yang membawa sosok kurus, yaitu sang ayah, Bapak Andrian. Rumah Sakit Arun menjadi tujuan mereka karena Pak Andrian mengidap penyakit paru-paru akut. Pak Andrian harus meminta bantuan anaknya karena sang istri, Ibu Sri Mulyani, sedang bekerja di sal batu bata untuk membantu menopang kebutuhan keluarga.
Menggantikan pesan suami dan menjadi tulang punggung keluarga tentu merupakan tugas yang tidak mudah bagi Ibu Sri Mulyani. Terlebih karena mereka memiliki empat anak yang masih kecil, salah satunya bahkan masih usia balita. Himpitan ekonomi menjadi ujian sehari-hari bagi keluarga sederhana ini. Mereka bahkan tidak memiliki biaya untuk menyewa tempat tinggal sehingga pernah terpaksa menumpang di dapur-dapur batu bata di sekitar wilayah Bluka Teubai. Setelah beberapa bulan tinggal bersama tumpukan batu bata, akhirnya mantan geuchik setempat mengizinkan keluarga Bapak Andrian untuk menetap di salah satu rumah kosong miliknya.
Sebelumnya, keluarga Pak Andrian mencari rezeki dengan cara berjualan siomay. Mereka menjajakkannya ke sekolah-sekolah, terutama Sekolah Dasar. Hasil yang didapat cukup untuk menutup kebutuhan keluarga. Sayangnya, bisnis kecil itu harus berhenti ketika Pak Andrian mulai mengidap penyakit paru-paru. Kesehatannya yang terus menurun membuat beliau harus beristirahat secara penuh. Untuk tetap menyambung hidup, Ibu Sri belajar memotong batu bata dan kemudian bekerja sebagai buruh pembuat batu bata di desa, dibantu oleh anak-anaknya.
Anak tertua Ibu Sri bertugas menjaga sang ayah ketika ibu dan adik-adiknya bekerja di dapur batu bata. Mereka baru selesai bekerja di sore hari, dan setelahnya mereka akan bersama-sama berjalan menuju rumah sakit yang jaraknya lebih dari 5 km karena becak yang mereka miliki belakangan mengalami kerusakan.
Perjuangan keluarga Ibu Sri akhirnya menarik perhatian Baitul Mal. Pak Andrian mendapatkan bantuan dana pengobatan sehingga beliau bisa dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Hal itu seperti jawaban dari doa-doa Ibu Sri dan keempat anaknya. Tidak ada yang mereka harapkan selain kesembuhan Pak Andrian.
Setelah mendapatkan perawatan intensif, kondisi Pak Andrian berangsur-angsur membaik. Beliau tidak lagi merasakan sesak yang teramat seperti sebelumnya. Namun ternyata Allah berkehendak lain, beberapa hari kemudian, Pak Andrian menghembuskan napas terakhir. Suasana duka seketika melingkupi keluarga ini. Ada harapan-harapan yang patah dan luka-luka yang kembali menganga.
Namun, berdiri tegak setelah didekap duka adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki keluarga Ibu Sri. Selama masa berkabung, yang bekerja adalah dua anak tertua Ibu Sri dan almarhum Pak Andrian agar kebutuhan keluarga tetap tercukupi. Mereka juga mendapat sedikit bantuan dari warga sekitar.
Waktu berlalu, keluarga perlahan mulai ikhlas dengan kepergian Pak Andrian. Aktivitas mereka juga kembali seperti semula. Ibu Sri kembali bekerja membuat batu bata untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Tanpa diduga, program ZFD (Zakat Family Development) hadir ke tengah-tengah mereka. Program pemberdayaan keluarga yang digagas UNICEF dengan kerja sama Baitul Mal dan Yayasan Aceh Hijau ini membuka pendaftaran proposal untuk calon mustahik kurang mampu. Dengan bantuan pendamping lapangan, Ibu Sri segera mengajukan proposal sembari melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan. Pihak Baitul Mal juga melakukan survei keadaan rumah yang ditempati Ibu Sri, disusul dengan tahap wawancara yang dilakukan via telepon.
Setelah menanti dengan penuh kesabaran, Ibu Sri akhirnya menerima informasi bahwa beliau memenuhi kriteria sebagai mustahik penerima manfaat program ZFD. Keluarganya mendapatkan bantuan dana usaha dan biaya pendidikan anak, dengan total dana yang akan dicairkan sebanyak Rp21.600.000.
Dana bantuan itu merupakan berkah luar biasa bagi Ibu Sri. Beliau memanfaatkannya untuk membayar sewa rumah dan membiayai sekolah anak-anaknya. Karena bantuan tersebut, kini Ibu Sri juga sudah memiliki dua dapur pembuatan batu bata sendiri sehingga tidak perlu lagi menjadi buruh. Beliau justru kini bisa membuka lowongan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya. Bukan hanya itu, Ibu Sri kini sedang dalam proses mencicil sepetak tanah di dekat pantai yang akan dijadikannya rumah bagi keluarganya di masa depan.
Meskipun perjalanan kehidupan keluarga Ibu Sri Mulyani penuh dengan cobaan, mereka memiliki ketabahan dan kegigihan luar biasa untuk tetap bertahan. Melalui bantuan dari program ZFD, pintu-pintu kesempatan terbuka lebar bagi mereka. Kini Ibu Sri dan keempat anaknya memiliki kesempatan untuk melangkah maju dan menyongsong hari esok yang lebih baik.