Pidie, 25 September 2024 – Dalam upaya meningkatkan akses layanan air, sanitasi, dan kebersihan di sekolah, Pemerintah Kabupaten Pidie, bekerja sama dengan UNICEF dan Yayasan Aceh Hijau (YAHijau), menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Kapasitas dan Advokasi Rencana Aksi Peta Jalan Sanitasi Sekolah. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dari 25 hingga 26 September 2024, di Aula Pertemuan Oprom Kabupaten Pidie.
Lokakarya ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Bappeda Kabupaten Pidie, Bagian Kesra Kabupaten Pidie serta kepala sekolah dari berbagai jenjang. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan komitmen para stakeholder terhadap pentingnya layanan sanitasi yang memadai di sekolah dan menyepakati rencana aksi peta jalan sanitasi sekolah di Kabupaten Pidie dengan mengacu pada Peta Jalan Sanitasi Sekolah 2024 - 2030, sejalan dengan Gerakan Sekolah Sehat (GSS). Dengan kondisi saat ini, hanya 11,43% sekolah di Indonesia yang memiliki toilet terpisah dan berfungsi baik, sementara sekitar 52,49% sekolah masih memiliki toilet yang tidak memadai.
Selama dua hari kegiatan, peserta mengikuti berbagai sesi yang mencakup pemaparan materi dan diskusi. Hari pertama dibuka secara resmi oleh perwakilan Pj Bupati Kabupaten Pidie dalam hal ini diwakili oleh Asisten 1 Kabupaten Pidie Almanza. S,Stp dan dilanjutkan dengan panel diskusi mengenai peta jalan sanitasi sekolah serta prioritas pendanaan infrastruktur fasilitas pendidikan. Pada hari kedua, agenda diisi dengan diskusi kelompok terfokus untuk menyusun rencana aksi percepatan peningkatan akses sanitasi di sekolah.
WASH Specialist Yayasan Aceh Hijau, Dian Aprianda, dalam sambutannya menggarisbawahi dua hal penting yang perlu diupayakan secara bersama-sama untuk meningkatkan kualitas layanan air, sanitasi, dan higiene di Kab. Pidie.
“Harapannya kegiatan pada hari ini, terkait dengan rencana aksi, adalah bagaimana kita dapat membagi porsi kita, peran multisektor terkait fokus pada layanan air, sanitasi, dan higiene di sekolah. Karena berdasarkan fakta dan data yang dilakukan oleh UNICEF, sejauh ini 1 dari 6 anak perempuan tidak hadir di sekolah saat mengalami menstruasi dikarenakan layanan air, sanitasi, dan higiene di sekolah tidak memadai dan tidak mendukung layanan Manajemen Kebersihan Kesehatan Menstruasi, dengan contohnya toilet yang tidak memiliki air dan tidak aman dengan tidak memiliki kunci. Kemudian beliau juga menyampaikan terdapat yang menjadi pr kita bersama dan harus menjadi fokus kita bersama baik tingkat sekolah, dinas, puskesmas, maupun masyarakat adalah praktik buang air besar sembarangan. Ini masih menjadi poin kita bersama bagaimana agar kita keluar dari situasi ini dan bagaimana kita mengupayakan stop BABS di Kabupaten Pidie ini menjadi hal yang cepat selesai dengan dilakukan kerjasama dan sinergi multi sektor” jelas beliau.
Pejabat Bupati Pidie melalui Asisten 1 Kabupaten Pidie, Almanza. S,STP, dalam sambutan beliau menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan Yayasan Aceh Hijau atas kontribusi selama ini dalam penguatan kapasitas dan strategi dalam upaya peningkatan layanan air, sanitasi, dan higiene di Kabupaten Pidie, baik dalam tingkat masyarakat, hingga tingkat sekolah, kami Pemerintahan Kabupaten Pidie sangat siap dan mendukung program atau upaya yang dilakukan oleh Yayasan Aceh Hijau secara bersama pastinya.
“Peluncuran Peta jalan Sanitasi Sekolah 2024/2030 memperkuat komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas untuk masa depan anak Indonesia. Oleh karena itu, membutuhkan dukungan dari semua pihak demi terbangunnya lingkungan belajar dan budaya hidup sehat bagi setiap anak khususnya di Kabupaten Pidie. Dengan membangun budaya bersih melalui pemenuhan sanitasi sekolah yang memadai, juga merupakan bagian dari upaya kita meletakkan dasar untuk mewujudkan kesehatan jasmani dan rohani setiap anak,” papar Pak Almanza.
