IG Post - Logo ACEH HIJAU

Banda Aceh, 25 Juli 2024 – Dalam upaya meningkatkan akses dan layanan sanitasi yang aman serta mengintegrasikan ketahanan iklim ke dalam perencanaan daerah, UNICEF bersama Yayasan Aceh Hijau dan Pemerintah Aceh menyelenggarakan Orientasi Kerangka Kerja Air Minum dan Sanitasi Berketahanan Iklim dan Bimbingan Teknis Integrasi Ketahanan Iklim Ke Dalam Dokumen Perencanaan Bidang Air, Sanitasi & Penyehatan Lingkungan di Aula Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Aceh pada Kamis, 25 Juli 2024.

Kegiatan orientasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap sektor Air Minum dan Sanitasi (WASH). Aganda ini  dihadiri oleh Kepala Kantor UNICEF Aceh, Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh, WASH Consultant Aceh, Direktur Yayasan Aceh Hijau, DPUPR Banda Aceh, Dinas Sosial, PERUMDAM Tirta Daroy dan melibatkan lebih dari 70  peserta yang terdiri dari perwakilan Pokja PKP/PPAS Provinsi dan kabupaten/kota di Aceh hadir untuk dibekali dengan pengetahuan dan instrumen yang diperlukan dalam melaksanakan penilaian dan integrasi ketahanan iklim dalam perencanaan sanitasi.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai kerangka kerja yang diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di sektor WASH. Selain itu, bimbingan teknis yang akan dilakukan di Kota Banda Aceh dan Kota Sabang diharapkan dapat membantu kedua kota ini dalam mengintegrasikan hasil assessment ketahanan iklim ke dalam dokumen perencanaan sanitasi mereka.

Orientasi ini dilakukan dengan metode pemaparan, diskusi, dan tanya jawab untuk memfasilitasi pemahaman yang mendalam dan interaktif. Acara ini juga dihadiri oleh narasumber dari tingkat nasional dan provinsi serta berbagai lembaga terkait yang terlibat dalam upaya peningkatan akses dan layanan sanitasi yang aman di Aceh.

Kepala Kantor UNICEF Aceh, Andi Yoga Tama, menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam SDGs terutama dalam akses sanitasi dan air bersih. “Pemerintah Aceh menargetkan masyarakat Aceh memiliki akses terhadap sanitasi sebesar 80% pada tahun 2026. Harapannya kita dapat meningkatkan komitmen bersama untuk meningkatkan akses sanitasi dan air bersih dan juga menghadapi perubahan iklim,” ungkap Andi.

Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh, T. Robby Irza, S.SiT, MT, menegaskan bahwasanya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Aceh, kita harus terus meningkatkan kualitas SDM dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim. “Hari ini kita sudah masuk dalam krisis iklim dan tantangan krisis air bersih dan air minum. Dalam waktu mendatang kita juga menghadapi kegiatan PON, ini juga menjadi tantangan bagi kita bagaimana memastikan ketersediaan air bersih dan air minum. Semoga kegiatan Orientasi ini dapat mewujudkan pembangunan sanitasi dan air bersih bagi masyarakat Aceh,” tuturnya.

Orientasi ini merupakan langkah strategis yang penting dalam memperkuat ketahanan iklim di sektor air minum dan sanitasi, khususnya di Provinsi Aceh. Diharapkan kegiatan ini akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait akses air bersih dan sanitasi yang aman di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *